Survei Membuktikan Warga DKI Khawatir Vaksinasi COVID-19 - TRIANGULAR

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Your Ad Spot

Friday, July 23, 2021

Survei Membuktikan Warga DKI Khawatir Vaksinasi COVID-19

 Ilustrasi, sumber foto: ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/aww


OMNIA SLOTLaporCovid-19, Lab Intervensi Sosial dan Krisis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), dan Social Resilience Lab NTU melakukan studi berbasis survei untuk menggali hambatan dan memetakan persepsi warga Jakarta tentang vaksinasi.


Pemimpin studi dan kolaborator ahli laporcovid19.org, Dicky Pelupessy mengatakan salah satu hasil yang ditemukan adalah sepertiga responden mengaku khawatir divaksinasi karena tidak halal, padahal sudah divaksinasi.


“Jadi temuan utama yang menarik dari survei ini adalah kami mendapati bahwa masih cukup besar warga DKI yang khawatirkan tiga hal utama, khawatir terhadap efek samping atau KIPI, kemudian soal kemanjuran dan masih ada yang khawatir dengan kehalalan atau masih ada yang khawatir vaksinnya haram,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara online, Minggu (13/6/2021).



Sebanyak 10 ribu orang khawatir vaksin tidak halal


Sebanyak 10.789 responden khawatir vaksin COVID-19 tidak halal, dan hal ini diungkapkan tidak hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh masyarakat non-Muslim.


Dikcy menjelaskan, survei yang dilakukan selama dua minggu sejak 30 April hingga 15 Mei 2021 ini diikuti oleh 57.231 responden di seluruh wilayah DKI Jakarta, namun hanya 47.457 responden yang menyelesaikan survei dan tervalidasi.


Dari sisi risiko kesehatan infeksi COVID-19, sebanyak 70,95 persen responden mengaku tidak memiliki penyakit penyerta. Survei online ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel menggunakan metode convenience sampling. Penyebaran survei dibantu oleh Biro Tata Pemerintahan DKI Jakarta.


Banyak yang khawatir tentang kemanjuran vaksin dan efek KIPI


Dicky juga menjelaskan, ada 34 persen responden (16.102 orang) yang khawatir dengan kemanjuran vaksin COVID-19, atau menganggap vaksin COVID-19 belum mampu melindungi dari infeksi virus SARS-nCov2.


Sementara itu, sebanyak 32 persen responden (14.889 warga) takut akan efek samping vaksin atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Mereka yang berusia 50-60 tahun (pra-lansia), dengan pekerjaan TNI/Polri dan tenaga kesehatan merupakan kelompok yang memiliki kekhawatiran tertinggi terhadap efek samping vaksin COVID-19.


Ada 13,4 persen responden yang mengaku masih kesulitan mengakses informasi vaksin


Survei ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk DKI Jakarta (70 persen) relatif tidak mengalami kendala yang berarti dalam memperoleh informasi tentang lokasi pendaftaran dan vaksinasi serta transportasi.


Namun, sebagian kecil responden, kata Dicky, yakni 13,4 persen atau 6.366 orang mengaku masih kesulitan mengakses informasi tentang vaksinasi. Meskipun jumlah responden lansia hanya 18,7 persen, sepertiga (32,56 persen) kelompok usia lanjut menunjukkan ketergantungan pada orang lain untuk mendaftar dan pergi ke tempat vaksinasi.


Sejumlah rekomendasi untuk mengatasi masalah ini


Survei ini juga menunjukkan bahwa 8 persen responden menyatakan tidak bersedia divaksinasi. Menyikapi hal tersebut, kata Dicky, perlu ada upaya serius dan strategis untuk merespon kekhawatiran masyarakat agar cakupan vaksinasi di Jakarta terus meningkat.


LaporCovid-19 merekomendasikan beberapa hal, sebagai berikut:


  1. Mengintensifkan edukasi dan sosialisasi untuk wilayah dan kepada kelompok warga DKI Jakarta yang masih memiliki kekhawatiran cukup tinggi akan efektivitas dan manfaat vaksinasi, efek samping, dan kehalalan vaksin.
  2. Menyasar secara lebih spesifik wilayah dan kelompok warga untuk menyampaikan pesan kunci mengenai efektivitas dan manfaat vaksinasi, rendahnya risiko kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) dan kesiapan tata laksana penanganan KIPI, dan kehalalan vaksin. Pesan kunci disampaikan menggunakan bahasa, medium pesan, dan penyampai pesan yang sesuai dengan wilayah dan kelompok warga yang disasar.
  3. Mempermudah warga untuk mengakses layanan vaksinasi, yaitu dengan cara sebagai berikut:
  • Melanjutkan dukungan untuk warga miskin (menggerakkan RT/RW, sosialisasi dari pintu ke pintu, bantuan transportasi dll).
  • Memberi kemudahan dalam penjadwalan dan kemudahan mengakses lokasi vaksinasi (terutama untuk pra-lansia dan lansia).
  • Menjamin program vaksinasi tanpa dipungut biaya.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Your Ad Spot