Omnia Slot - Ribuan migran, kebanyakan dari Haiti, Kuba, dan Venezuela telah tiba di Del Rio, Texas, dalam dua hari terakhir. (Foto: Rep. AS Tony Gonzales, R-Texas)
Amerika Serikat (AS) dan Meksiko, bersama-sama meningkatkan ketegasan mereka dan mulai mengusir ribuan warga Haiti yang bertahan pada perbatasan Texas-Tamaulipas.
Lebih dari 12.000 migran yang mencoba mencari suaka dapat memasuki Amerika Serikat di perbatasan Texas, AS dan Tamaulipas, Meksiko. Kebanyakan dari mereka adalah orang Haiti.
Ribuan orang berkemah di bawah jembatan dan baru-baru ini, AS mengirim mereka kembali ke rumah dengan penerbangan yang dilakukan secara bertahap. Pada Selasa (21/9), petugas patroli perbatasan AS yang menunggang kuda mengejar para migran Haiti dengan cara menangkap dan mencambuk.
AS-Meksiko mulai mendeportasi dan mengevakuasi migran Haiti
https://twitter.com/reuterspictures/status/1439933126092939266?s=20
Sejak Minggu (19/9), pemerintah AS mulai menerbangkan migran Haiti yang masih berada di perbatasannya. Pesawat membawa para pencari suaka kembali ke bandara Port-au-Prince.
Pada hari Selasa, enam penerbangan disiapkan untuk mendeportasi warga Haiti yang telah berkemah di perbatasan selama beberapa waktu.
Menurut The Guardian, lebih dari 6.000 migran telah dipindahkan dari kamp-kamp yang mereka dirikan di bawah jembatan perbatasan Texas. Beberapa pengungsi kembali ke Meksiko dan yang lainnya bingung harus pergi ke mana.
Meksiko sendiri juga dikabarkan mulai mengusir warga Haiti yang kembali ke Meksiko dari perbatasan AS. Seorang pejabat federal Meksiko mengatakan rencananya adalah membawa para migran ke Monterrey, di Meksiko utara, dan Tapachula, di selatan, dengan penerbangan ke Haiti.
Gedung Putih marah dengan tindakan pasukan patroli perbatasan
https://twitter.com/Reuters/status/1440272091673026567?s=20
Pada hari Selasa, foto-foto pasukan patroli perbatasan AS dengan menunggang kuda dan topi bertepi lebar beredar luas di media sosial. Beberapa foto menunjukkan salah satu pasukan patroli membawa cambuk untuk mengusir para pencari suaka, yang sebagian besar adalah warga Haiti.
Aksi pasukan patroli itu menimbulkan kemarahan banyak kalangan. Kritik langsung meluncur ke arah pemerintahan yang dipimpin Presiden Joe Biden.
Menurut Huffington Post, sekretaris pers Gedung Putih Jen Psaki mengatakan bahwa meskipun dia tidak memiliki "konteks penuh" tentang apa yang terjadi dalam insiden itu, "Saya pikir yang melihat rekaman itu akan berpikir itu dapat tidak dapat diterima atau sesuai."
Menanggapi rekaman video dan foto perilaku pasukan patroli perbatasan, Departemen Dalam Negeri AS juga mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa itu "sangat meresahkan." Investigasi akan dilakukan dengan cepat untuk mengambil tindakan disipliner yang tepat.
Chuck Schumer, pemimpin mayoritas Senat, mendesak Joe Biden untuk segera mengakhiri pengusiran migran Haiti. "Gambar-gambar migran Haiti yang dipukul dengan cambuk dan bentuk-bentuk kekerasan fisik lainnya benar-benar tidak dapat diterima," katanya.
Bencana dan ketidakamanan telah mendorong ribuan warga Haiti mencari nafkah di AS
https://twitter.com/HuffPost/status/1440351116693172232?s=20
Haiti telah menderita dan merupakan salah satu negara termiskin di Amerika. Selain itu, negara juga tidak stabil, baik keamanan maupun politik.
Presiden Haiti, Jovenel Moise, dibunuh pada Juli, dan telah menimbulkan kekhawatiran akan ketidakstabilan lebih lanjut di negara itu.
Ditambah dengan bencana gempa bumi yang telah merusak dan mematikan, banyak warga Haiti yang putus asa dan berusaha mencari peruntungan agar bisa diterima di AS.
Dilansir dari Associated Press, Claile Bazile, salah satu warga Haiti yang telah tiba di perbatasan AS-Meksiko mengatakan dia meninggalkan negaranya setelah gempa 2010. Sekarang dia dideportasi dan tidak tahu di mana dia akan tinggal bersama putranya yang berusia dua tahun.
Penduduk Haiti lainnya, Joseph Derilus, telah meninggalkan negaranya untuk mencari pekerjaan ke Chili. Tapi kemudian dia ingin bisa masuk ke AS dan akhirnya terdampar di perbatasan.
Dia termasuk di antara mereka yang telah dideportasi kembali ke Haiti bersama istri dan anaknya yang masih kecil. "Saya tidak punya uang. Semuanya sangat rumit. Tidak ada keamanan di Haiti. Tidak ada."
Salah satu faktor lain yang membuat orang Haiti menjauh adalah kekerasan geng yang brutal. Organisasi Doctor Without Borders menjelaskan "ketidakamanan yang kita lihat hari ini di Port-au-Prince adalah yang terburuk yang pernah kita lihat dalam beberapa dekade."
Mereka meminta AS untuk tidak mendeportasi warga Haiti karena alasan kemanusiaan.
Menurut organisasi tersebut, lebih dari separuh pasien di fasilitas kesehatan mereka menderita luka tembak. "Tidak masuk akal untuk memulangkan para migran yang bertentangan dengan keinginan mereka ke dalam situasi ketidakpastian dan bahaya ini," katanya.

No comments:
Post a Comment