Begini Cara Agar Bisa Hidup Berkualitas Bagi Pasien Ginjal Kronis - TRIANGULAR

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Your Ad Spot

Tuesday, March 16, 2021

Begini Cara Agar Bisa Hidup Berkualitas Bagi Pasien Ginjal Kronis

 

Ilustrasi, sumber foto: Thinkstock


Sebanyak 1 dari 10 orang di dunia menderita penyakit ginjal kronis, dan 9 dari 10 orang dengan penyakit ginjal kronis tidak menyadari penyakit tersebut! Bagaimana kondisi di Indonesia?


Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia adalah 2,0 per 1.000 penduduk, sedangkan pada Riskesdas tahun 2018 jumlahnya meningkat menjadi 3,8 per 1.000 penduduk. Ini menunjukkan bahwa jumlah pasien baru terus meningkat.


Menyadari hal tersebut, Persatuan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) menggelar virtual media briefing dengan tema "Peringatan Hari Ginjal Sedunia 2021: Hidup Berkualitas dengan Penyakit Ginjal" pada Rabu (10/3/2021).


Acara ini menghadirkan tiga pembicara yaitu dr. Aida Lydia, Ph.D., SpPD-KGH, Ketua Umum PERNEFRI; Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.SC., Ph.D, Direktur Utama Dewan Direksi BPJS Kesehatan RI; dan dr. Rita Rogayah, SpP(K), MARS, Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan - Kemenkes RI. Yuk, simak bareng-bareng!


1. Minum obat antihipertensi dan diabetes secara rutin


Menurut data Renal Registry Indonesia, 40 persen penyebab gagal ginjal adalah penyakit ginjal hipertensi dan 26 persen penyakit ginjal diabetik. Sedangkan sisanya disebabkan oleh glomerulonefritis (11 persen), obstruksi infeksi (6 persen), ginjal polikistik (1 persen), dan lainnya.


Oleh karena itu, obat antihipertensi dan diabetes tetap harus diminum secara teratur (bagi penderita). Tujuannya untuk mengontrol tekanan darah dan gula darah serta mencegah komplikasi pada organ sasaran.


Menurut dr. Aida, anggapan bahwa mengonsumsi obat dapat merusak ginjal adalah salah persepsi. Ia menegaskan, yang merusak ginjal adalah penyakitnya, bukan obatnya.


2. Memberikan edukasi terkait penyakit ginjal kepada pasien dan keluarganya


Lebih lanjut dr. Aida menuturkan, sekitar sepertiga penderita penyakit ginjal kronis (PGK) tidak begitu tahu tentang penyakitnya. Umumnya pasien datang dalam kondisi lanjut, dimana fungsi ginjal sangat rendah dan telah terjadi komplikasi akut akibat penyakit tersebut. Hal ini membuat pilihan pengobatan yang ditawarkan menjadi terbatas.


Apa solusinya? Ia menekankan pentingnya edukasi tentang penyakit ginjal, komplikasi, penatalaksanaan, dan pilihan pengobatan bagi penderita PGK sebelum mencapai penyakit ginjal tahap akhir (PGTA).


Menurutnya, pasien dan keluarganya harus dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan dengan mengedepankan peran, nilai, prioritas dan tujuan pasien itu sendiri. Pendekatan ini disebut sebagai hasil yang berorientasi pada pasien.


“Pasien dan pendampingnya harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan serta harus mengerti konsekuensi yang muncul akibat keputusan tersebut. Sebagai contoh, pada pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis, pasien dan pendampingnya hendaknya memahami mengenai pembatasan asupan cairan dan diet, serta obat yang harus rutin dikonsumsi,” terang dr. Aida.


Tidak berhenti sampai disitu, penanganan untuk aspek psikologis penyakit ginjal seperti gangguan kecemasan, stres, gangguan tidur, dan depresi juga harus diberikan. Tujuannya untuk mengoptimalkan peran pasien dalam hidupnya.


3. Memfasilitasi pasien untuk mengakses perawatan yang berkualitas


Unit hemodialisis, jumlah dokter konsultan ginjal, jumlah perawat dan lain-lain masih terbatas dan belum merata di Indonesia. Umumnya hanya terkonsentrasi di pulau jawa dan sedikit di pulau lain seperti kalimantan, sulawesi dan papua.


Terkait hal tersebut, dr. Rita menjelaskan beberapa strategi. Untuk mengatasi ketimpangan jumlah fasilitas kesehatan di daerah terpencil dan untuk meningkatkan distribusi tenaga kesehatan, kita dapat memperluas cakupan pendidikan kesehatan ginjal ke daerah terpencil.


Selain itu, bisa juga dengan mengadaptasi metode telemedicine atau menerapkan teknologi informasi terkini untuk menyebarluaskan pendidikan. Tak ketinggalan, buat program pemerataan bagi tenaga kesehatan dengan melibatkan pengambil kebijakan di tingkat lokal dan nasional.


Namun, tentu saja mencegah lebih baik daripada mengobati. Untuk mencegah kerusakan ginjal dan menjaga kualitas hidup diperlukan diagnosis dini, pengendalian faktor risiko seperti hipertensi dan diabetes, dan lain-lain.


Sebagai bentuk pencegahan, ada 8 langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan ginjal yaitu menjaga aktivitas fisik, mengontrol gula darah, menjaga asupan cairan, tidak merokok, mengonsumsi makanan sehat dan gizi seimbang, mengontrol tekanan darah, menghindari konsumsi berlebihan. obat penghilang rasa sakit, serta mengidentifikasi faktor risiko dan memeriksa fungsi ginjal.

Situs Poker Online, Poker88, Agen Judi Poker Online

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Your Ad Spot