Ilustrasi, sumber foto: Shutterstock
Kanker penis adalah kanker yang tumbuh dan berkembang di penis atau organ intim pria. Kanker ini memiliki morbiditas dan mortalitas yang tinggi, dan umum terjadi di negara terbelakang dan pria lanjut usia. Apakah ada cara untuk mencegahnya?
Jawabannya ada. Pencegahan kanker penis dapat dilakukan dengan menghindari berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko, dan menerapkan beberapa gaya hidup sehat, seperti:
Selalu jaga kebersihan penis.
Tidak berganti pasangan dalam hubungan seksual.
Hindari merokok atau mengunyah tembakau.
Selain mengambil beberapa langkah pencegahan, beberapa faktor risiko kanker penis yang perlu diketahui adalah:
Usia. Risiko kanker penis dapat meningkat pada orang yang berusia di atas 60 tahun. Padahal sebenarnya bisa juga terjadi pada orang di bawah usia tersebut.
Memiliki penyakit menular seksual yang tidak tertangani dengan baik.
Paparan zat tertentu, seperti mengunyah tembakau, (dengan ultraviolet A, psoralen), dan zoofilia.
Menderita Phimosis.
Tidak menjaga kebersihan penis. Orang dengan phimosis sering mengalami kesulitan membersihkan bagian dalam kulup penis. Smegma juga dianggap sebagai faktor risiko perkembangbiakan kanker dalam uji klinis.
Lichen sclerosus (atau Balanitis xerotica obliterans).
Luka pra-ganas, seperti penyakit Bowen (Queyrat), leukoplakia, penyakit Paget, dan Buschke-Lowenstein.
Gejala Yang Muncul Saat Mengidap Kanker Penis
Kanker penis yang disebabkan oleh phimosis, dapat membuat penderitanya mengalami beberapa gejala seperti:
Smegma. Umumnya mulai terbentuk pada beberapa hari pertama kelahiran bayi di bagian dalam kulup.
Gatal dan ruam di area penis.
Luka dan nyeri, bisa berupa munculnya benjolan yang nyeri atau tidak nyeri pada lipatan kulup.
Jika kamu mengalami gejala tersebut, segera periksakan ke dokter, agar penanganan bisa dilakukan secepatnya. Sebab, jika tidak ditangani dengan baik, kanker penis bisa menyebabkan:
Carbuncle atau Anthrax. Terjadi bila kanker telah terbukti tetapi tidak ditangani dengan baik.
Metastasis. Bisa terjadi dengan cepat.
Pada penderita tanpa phimosis tetapi gejala phimosis, pendarahan biasanya terjadi saat penis dalam keadaan ereksi pada pagi hari atau saat melakukan hubungan seksual (sanggama).
Selain itu secara klinis, kanker uretra invasif sekunder juga dapat terjadi walaupun jarang terjadi. Kondisi ini sering terjadi di sepanjang uretra sehingga menyebabkan obstruksi dan hematuria, disuria, dan kebocoran urin.
Fitur klinis lain yang juga dapat terjadi pada penderita kanker penis adalah:
Ulkus penis nekrotik yang terinfeksi.
Cedera pada penis.
Limfadenopati.
Tanda fisik (hepatomegali) atau gejala (cachexia, kebingungan) menunjukkan adanya penyakit metastasis atau gangguan metabolisme terkait, seperti hiperkalsemia.
Perawatan untuk Kanker Penis
Saat dicurigai adanya kanker penis, dokter biasanya akan melakukan biopsi pada luka pada penis yang diinterpretasikan dalam konteks klinis. Tes umum lainnya untuk diagnosis adalah hitung WBC untuk mendeteksi kondisi peradangan, sinar-X dan CT-scan perut untuk mencari hepatomegali atau kanker prostat.
Setelah diagnosis dipastikan, barulah dilakukan pengobatan. Perawatan untuk kanker penis dilakukan dengan menggunakan sistem stadium Tumor Node Metastasis (TNM), dan berbagai evaluasi awal, tahapan dan perawatan dapat diindikasikan. Perawatan untuk kanker penis dapat meliputi:
Pembedahan (penyunatan, amputasi sebagian atau seluruh penis, pembedahan kelenjar getah bening inguinal / limfadenektomi dan pembedahan kelenjar pelvis).
Terapi radiasi.
Kemoterapi.


No comments:
Post a Comment